Pages

Selamat Datang DI Blog SD NEGERI 002 SEBATIK DESA BALANSIKU. Terima kasih atas kunjungannya.Mohon maaf blog ini masih dalam tahap pembenahan

Labels

SDN 002 Sebatik Peringati Hari Sumpah Pemuda yang ke 88


Balansiku. Sebatik. Hari ini tgl 28 Oktober 2016 SDN 002 Sebatik melaksanakan upacara dalam rangka peringatan hari yang sangat bersejarah Hari Sumpah Pemuda yg ke 88.

Upacara kali ini penuh warna warni kostum yang dikenakan peserta upacara. Ada yg berpakaian TNI, Polisi,  Reliji, Kebaya  dan lain-lain yang menggambarkan pemuda yang sedang bersatu padu mengikrarkan sebuah janji untuk memepersatukan nusantara dan selaluada siaga memembela NKRI dri berbagai ancaman.
Selain itu,  kostum yang dikenakan hari ini juga memberikan penegasan bahwa walaupun berbeda tetapi kita tetap Satu Nusa,  Satu Bangsa dan Satu Bahasa seperti yang tertuang dalam naskah Sumpah Pemuda.

Peserta upacara pada peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini di hadiri oleh seluruh Dewan Guru besera staff  serta seluruh siswa SDN 002 Sebatik.  Upacara berjalan dengan hikmat dan lancar
Petugas upacara hari siswa-siswi yang dipilih mulai dari kelas I -VI.

Bapak Suwito S.Pd. Kepala Sekolah SDN.002 Sebatik yang bertindak sebagai Inspektur Uoacara dalam selah pidatonya mengutip kalimat Bung Karno "Berikan aku 1.000 org tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan  dunia" .

Peringatan hari Sumpah pemuda ini di harapkan bukan hanya sekedar menjadi acara seremonial belaka, tetapi diharapkan mampu menumbuhkan semangat patriotis dan nasionalis bagi seluruh siswa, terkhusus karena kita berada di wilaya perbatasan. /Bd



Laporan : Budi
Editor : Andi Nuralim Umar

Sampah Menjadi Barang yang Bernilai

Limbah atau sampah merupakan maslah kebanyakan orang, tetapi beda di Sdn 002 sebatik sampah bisa disulap menjadi barang  yg bernilai. Seperti terlihat  bapak andang  salah satu orang tua siswa asik membuat pot bunga dari ban bekas sepeda motor.






Tanggap peduli lingkungan, Waspada Demam Berdarah

Pada tanggal 23 Juli 2016 bertempat di Desa Balansiku Kec. Sebatik Kab. Nunukan dilaksanakan fogging sebagai langkah mengantisipasi bersarangnya nyamuk demam berdarah di wilayah Desa Balansiku. Fogging atau lebih dikenal dengan pengasapan ini rencananya dilakukan di rumah-rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah, Masjid, Pustu, dan Kantor Desa.
Lokasi pertama pagi ini di pusatkan di SDN 002 Sebatik. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas dari Puskesmas Sungai Taiwan dan di dampingi langsung oleh Kepala Desa Balansiku, Babinsa Balansiku serta Kepala SDN 002 Sebatik.

Di sela-sela waktu, Kepala Desa Balansiku H. FIRMAN H. LATIF mengatakan "fogging ini dilakukan sebagai langkah awal pengendalian bahaya penyakit demam berdarah. Karena beberapa hari yang lalu sempat ada warga kita yang positif DBD, saya tidak mau korban semakin bertambah. Terkhusus untuk anak-usia sekolah". H. Firman juga menyampaikan terima kasih kepada pihak Puskesmas Sungai Taiwan atas kesediaanyya memfasilitasi kegiatan ini.
Melalui kesempatan ini juga, Bapak Suwito, S.Pd selaku Kepala SDN. 002 Sebatik mengatakan "akhir-akhir ini kami memang sangat resah setelah salah seorang rekan kami di sekolah ini dinyatakan Positif DBD. Tetapi dengan adanya pengasapan ini telah menjawab keresahan kami. Semoga lingkungan sekolah ini bersih dari nyamuk aedes aegypti. (UC)

Tugas Baru OPS : Aplikasi Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP)


Assalamu Alaikum Sahabat Nusantara. Kabar Kali ini adalah terkait dengan Aplikasi yang baru-baru ini dirilis oleh Drektorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah pada tanggal 18/08/2016 melalui lamanhttp://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.idyaitu Aplikasi Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP).

Dalam rangka memfasilitasi agar proses pelaksanaan system penjaminan mutu untuk satuan pendidikan berjalan lebih efektif dan efisien, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengembangkan Aplikasi Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP).


Adanya Aplikasi PMP diharapkan dapat memberikan fasilitasi satuan pendidikan dalam penerapan sistem penjaminan mutu dalam rangka memperkuat upaya satuan pendidikan dalam memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu sesuai kebutuhan nyata di lapangan.

Sistem Penjaminan Mutu yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI dilaksanakan oleh satuan pendidikan, sedangkan SPME dilaksanakan oleh institusi di luar satuan pendidikan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah.

Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah suatu mekanisme yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Untuk dapat melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan baik diperlukan adanya sistem penjaminan mutu pendidikan.

Aplikasi PMP dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kaidah-kaidah Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah yang bertujuan untuk menjamin pemenuhan standar pada satuan pendidikan dasar dan menengah secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara mandiri. Di dalam aplikasi PMP tersedia kuesioner untuk setiap stakeholder sekolah yang digunakan untuk melakukan pemetaan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.

Secara teknis Aplikasi PMP bersifat komponen opsional (add ons/pengaya) dari Aplikasi Dapodik, maka Aplikasi PMP akan dapat diinstall dan berjalan jika dikomputer tersebut telah ter-install Aplikasi Dapodik. Secara otomatis Aplikasi PMP akan mengambil entitas data pokok dari Aplikasi Dapodik seperti data profil sekolah, PTK, PD dan lainnya. Selanjutnya Aplikasi PMP akan menampilkan daftar pertanyaan/kuesioner untuk masing-masing entitas data tersebut.

Aplikasi Penjaminan Mutu Pendidikan dapat anda Unduh DISINI dan Panduan Teknis DISINI

Demikian Informasi ini, semoga dapat membantu.
Wassalam,
Salam Satu Data.

Copy from : Sahabat Nusantara

Pedoman dan Pidato Kemdikbud Dalam Hari Pendidikan Nasional 2016

 Hrdiknas 2016
Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Tahun ini kembali akan digelar kegiatan tersebut di seluruh Nusantara.

Untuk menyeragamkan persepsi dalam rangka pelaksanaan kegiatan ini, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan menyampaikan pedoman pelaksanaan hardiknas Tahun 2016. Pedoman tersebut dapat di download DISINI

Bukan hanya itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga merilis Naskah Pidato dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2016 sebagai berikut :

Demikian postingan kali ini semoga dapat bermanfaat.



Link Download :
Pedoman Hardiknas 2016 DISINI
Pidato Mendikbud DISINI

Copy From : SAHABAT NUSANTARA

Biografi RA Kartini


Biografi R.A Kartini. Tokoh wanita satu ini sangat terkenal di Indonesia. Dialah Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini, beliau dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita kala ia hidup. Mengenai Biografi dan Profil R.A Kartini, beliau lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia. Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) di depan namanya, gelar itu sendiri (Raden Ajeng) dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) menurut tradisi Jawa.

Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, beliau ini merupakan kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara kala Kartini dilahirkan.

Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

Ibu R.A Kartini yaitu M.A. Ngasirah sendiri bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja, oleh karena itu peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan juga, hingga akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu.

R.A Kartini sendiri memiliki saudara berjumlah 11 orang yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri. Beliau sendiri merupakan anak kelima, namun ia merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan.

Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab ketika itu menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk 'dipingit'.

Pemikiran-Pemikiran R.A Kartini Tentang Emansipasi Wanita
Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca.

Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

R.A Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan eropa yang menjadi langganannya yang berbahasa belanda, di usiannya yang ke 20, ia bahkan banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, selain itu ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu - (R.A Kartini)."
Ketertarikannya dalam membaca kemudian membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan, R.A Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita eropa dan wanita pribumi.

Selain itu ia juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Surat-surat yang kartini tulis lebih banyak berupa keluhan-keluhan mengenai kondisi wanita pribumi dimana ia melihat contoh kebudayaan jawa yang ketika itu lebih banyak menghambat kemajuan dari perempuan pribumi ketika itu. Ia juga mengungkapkan dalam tulisannya bahwa ada banyak kendala yang dihadapi perempuan pribumi khususnya di Jawa agar bisa lebih maju.

Kartini menuliskan penderitaan perempuan di jawa seperti harus dipingit, tidak bebas dalam menuntuk ilmu atau belajar, serta adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Cita-cita luhur R.A Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Gagasan-gagasan baru mengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi olah Kartini, dianggap sebagai hal baru yang dapat merubah pandangan masyarakat. Selain itu, tulisan-tulisan Kartini juga berisi tentang yaitu makna Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, peri kemanusiaan dan juga Nasionalisme.

Kartini juga menyinggung tentang agama, misalnya ia mempertanyakan mengapa laki-laki dapat berpoligami, dan mengapa mengapa kitab suci itu harus dibaca dan dihafal tanpa perlu kewajiban untuk memahaminya.

Teman wanita Belanda nya Rosa Abendanon, dan Estelle "Stella" Zeehandelaar juga mendukung pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh R.A Kartini. Sejarah mengatakan bahwa Kartini diizinkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang guru sesuai dengan cita-cita namun ia dilarang untuk melanjutkan studinya untuk belajar di Batavia ataupun ke Negeri Belanda.

Hingga pada akhirnya, ia tidak dapat melanjutanya cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau
pun kuliah di negeri Belanda meskipun ketika itu ia menerima beasiswa untuk belajar kesana sebab pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Meskipun begitu, suami R.A Kartini memahami apa yang menjadi keinginan R.A KArtini sehingga ia kemudian diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama yang kemudian berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Pernikahan R.A Kartini Hingga Wafatnya
Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904, Namun miris, beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, R.A Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang masih sangat muda yaitu 24 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama "Sekolah Kartini" untuk menghormati jasa-jasanya. Yayasan Kartini ini keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.

Terbitnya Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'
Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'
Sepeninggal R.A Kartini, kemudian seorang pria belanda bernama J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa ketika itu.

Dari situ kemudian disusunlah buku yang awalnya berjudul 'Door Duisternis tot Licht' yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911. Buku tersebut dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan kelima terdapat surat-surat yang ditulis oleh Kartini.

Pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh Kartini kemudian banyak menarik perhatian masyarakat ketika itu terutama kaum Belanda sebab yang menulis surat-surat tersebut adalah wanita pribumi.

Pemikirannya banyak mengubah pola pikir masyarakat belanda terhadap wanita pribumi ketika itu. Tulisan-tulisannya juga menjadi inspirasi bagi para tokoh-tokoh Indonesia kala itu seperti W.R Soepratman yang kemudian menbuat lagu yang berjudul 'Ibu Kita Kartini'.

Presiden Soekarno sendiri kala itu mengeluarkan instruksi berupa Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, yang berisi penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Soekarno juga menetapkan hari lahir Kartini, yakni pada tanggal 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini sampai sekarang ini. 

Munculnya Perdebatan Surat-Surat Yang Ditulis Oleh Kartini.
Banyak perdebatan serta kontrovesi mengenai surat-surat yang ditulis oleh Kartini,  sebab hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat Kartini tak diketahui keberadaannya. jejak keturunan J.H. Abendanon pun sulit untuk dilacak oleh Pemerintah Belanda. Banyak kalangan yang meragukan kebenaran dari surat-surat Kartini.

Ada yang menduga bahwa J.H. Abendanon, melakukan rekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini didasarkan pada buku Kartini yang terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda ketika itu, dimana J.H Abendanon sendiri termasuk yang memiliki kepentingan dan mendukung pelaksanaan politik etis dan kala itu ia juga menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda ketika itu.

Selain itu penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga banyak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya bersama dengan hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih, sebab masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat perjuangannya dengan Kartini seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Menurut sebagian kalangan, wilayah perjuangan Kartini itu hanya di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah mengangkat senjata melawan penjajah kolonial.

Buku-Buku R.A Kartini
  • Habis Gelap Terbitlah Terang
  • Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  • Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
  • Panggil Aku Kartini Saja (Karya Pramoedya Ananta Toer)
  • Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
  • Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
Keturunan R.A Kartini Hingga Saat Ini
Seperti diketahui sebelum wafat R.A Kartini mempunyai seorang anak bernama R.M Soesalit Djojoadhiningrat hasil pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Anak Kartini yakni Soesalit Djojoadhiningrat sempat menjabat sebagai Mayor Jenderal pada masa kependudukan Jepang. Ia kemudian mempunyai anak bernama RM. Boedi Setiyo Soesalit (cucu R.A Kartini) yang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit.

Dari hasil pernikahannya tersebut, beliau mempunyai lima orang anak bernama (Cicit R.A Kartini) yang masing-masing bernama RA. Kartini Setiawati Soesalit, kemudian RM. Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM. Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM. Rahmat Harjanto Soesalit.

Sumber : Biografiku.com

GURU SGI DOMPET DHUAFA BANTU CERDASKAN SISWA-SISWI SEKOLAH DASAR DI BALANSIKU

BALANSIKU-SEBATIK KALTARA 10-11-2015, Pendidikan adalah  Gerbang menuju Ilmu Pengetahuan dan merupakan faktor penting dalam mencetak Generasi Muda yang Cerdas dan Berkarakter,dan setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan Pendidikan yang layak. Khusunya di Desa Balansiku , Pendidikan sangat menjadi Prioritas Utama sebagai harapan bahwa anak-anak adalah Generasi  Muda harapan Bangsa yang menjadi penerus perjuangan Bangsa Indonesia.

Dan untuk mewujudkan cita-cita mencetak Generasi Muda yang Cerdas dan Berkarakter tentunya ini menjadi Pekerjaan berat bagi para Pendidik dan Pemerintah. Namun dengan adanya Program dari Dompet Dhuafa dan Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang sekarang ini banyak menjadi Relawan di Sekolah-sekolah terpencil dan Sekolah-sekolah yang berada di Perbatasan memudahkan Para Guru dalam membina siswa-siswi menjadi lebih cerdas dan kreatif.

Tenaga Pendidik dari Sekolah Guru Indonesia ini adalah guru berkarakter yang tidak hanya fokus mengajar dikelas tapi juga mengajar siswa-siswi mengaji dan juga bahkan  ikut pengajian bersama Ibu-ibu Majelis Ta’lim di Desa Balansiku. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi masyarakat Desa Balansiku dengan adanya Tenaga Pendidik dari SGI ( Sekolah Guru Indonesia ).

“ Selama dua tahun terakhir ini di Sekolah kami di tempatkan Relawan dari SGI ( Sekolah Guru Indonesia ), kami makin senang dan semangat belajar, banyak perubahan dari kami selama diajar oleh Guru dari SGI (Sekolah Guru Indonesia) . dan yang paling kami senang adalah sebelum masuk kelas untuk belajar kami berkumpul dilapangan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya,lalu kami berteriak yel-yel penyemangat “ Mana Semangatmu “ teriak Ibu Guru Frima, kemudian kami serentak berteriak “ Ini Semangatku “.
Semoga Tahun-tahun berikutnya lagi akan ditempatkan lagi Guru-guru Hebat dari ( SGI ) agar anak-anak di Desa Balansiku lebih Semangat dan Rajin berangkat ke Sekolah demi untuk menghindari Keaksaraan Fungsional di Desa Balansiku. (Lhysa)


Sumber : Web Desa Balansiku